Tangerang Sayang, Sayang Tangerang

tng-sayang

Yang jauh jarang diacuh, yang dekat luput diingat. Sayangnya, barangkali seperti itulah Tangerang. Mengenang Tangerang ibarat meracik kopi di pagi hari, sebuah kebiasaan yang begitu melekat hingga tak terlalu dipikirkan lagi. Membayangkan Tangerang ibarat mengarang puisi, dicari-cari kata berima, diulang-ulang hingga berbunyi di telinga.

Tangerang muncul beberapa kali dalam dongeng nenek moyang, sebagai benteng pertahanan agar tak seorang menyerang Serang. Meskipun yang abadi adalah sajak tentang beribu tulang berliput debu di antara Karawang Bekasi, tetap di tanah itu tertinggal jejak-jejak para pejuang dan tulang-tulang yang berbaring berharap menang.

Tangerang lalu hilang lagi, terselubung polusi industri. Tetapi pada beberapa lubuk hati, sejarah tak bersembunyi di sudut-sudut Pasar Lama, bukan juga terbawa arus Cisadane. Tangerang ada dan menyimpan cerita. Orang boleh sibuk melirik Jakarta, tapi Tangerang tidak untuk dipandang sebelah mata. Lihat kota ini. Rasakan dengan nala beragam kisah tak terucap yang terungkap dengan sendiri.

Selayaknya nama Tangerang yang berarti “tanda”, bisa jadi pameran kecil ini adalah sebuah tanda terima kasih untuk kota yang diam-diam disayang, mungkin juga awal mula, pertanda kisah kasih baru dengan Tangerang, yang menunggu kami pulang.

Oleh : Nin Djani