Petrifish; sebuah cerita dari Kali Oyo

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat
Residency program 01 September 2019 – 30 November 2019

petrifish1

2

petrifish

petrifish1

4

petrifish6

petrifish6

8

9

petrifish10

Departing from his thematic interest related to the desolation of the sea in the future, Dhanny ‘Danot’ Sanjaya sought new possibilities by looking at this issue within the framework of the local situation in Yogyakarta. In the initial period of his residency, he met with several lecturers, sociologists, researchers, and fish farmers to understand the conditions of fisheries in Yogyakarta. Danot continued his investigation and eventually met with Irwanjasmoro, an independent river activist, who took him on several river explorations to see a different reality. With Irwan, Danot saw other problems related to local fishing conditions that were closely tied to unhealthy practices implemented in the river. One thing that interested him personally were the competitive nature between species of fish in the river’s ecosystem. Invasive migratory fish species placed by residents and government at several river points, an effort to support fish cultivation, turned out to be new competitors in the struggle for habitat and food sources for local fish species that have naturally lived and bred in the river.

Danot uses various stories and data as a base in building the narrative of his work, where he draws out the subject of the lost fish population in the ocean to the story of the river and consumption pattern of the local community. He then stitches these two problems into a fiction of the latest food technology discovery known as ‘cultured meat’ that offers lab grown, cell based-flesh and slaughter-free meat. This meat is claimed to be healthier with lower carbon emissions in its production.

the silenced ocean

so1

so2

so3

Photos by :  Bey Shouqi Hamidy

Mixed media and variable dimension
2018

__________

The Silenced Ocean

Pertimbangan memilih tema tertentu dalam proses penciptaan karya seni bisa bermula dari mana saja, kejenuhan, kesempatan atau persoalan masa lalu atau bisa pula dari rasa keingintahuan. “Saya hanya meminjam”, Dhanny Sanjaya menekankan soal kehadiran ikan yang belakangan acap terlihat di karya-karyanya. Ikan dalam karya – karya Dhanny dalam pemahaman saya tidak semata berdasar pada kesadaran estetis, melainkan rasa keingintahuan, dan sikap kritis.

Melanjut proyek sebelumnya “Ichthyhumanology Institute” , pada pameran terbarunya, “the silenced ocean” , Dhanny kembali menampilkan ikan dalam karyanya. Berangkat dari narasi masa depan tentang kemungkinan laut menjadi kosong, Ikan-ikan ini hadir sebagai sebuah kendaraan yang akan membawa kita pergi kembali ke masa lalu, menulusuri jalan yang pernah kita (manusia) lalui untuk melihat ulang bagaimana kita sebagai manusia memposisikan diri dengan lingkungan dan organisme lain. Walau karya ini baginya adalah bentuk kritik terhadap dirinya sendiri (Dhanny merasa seperti itu), “the silenced ocean”, bukan sekadar lanskap yang keindahannya menghampar segala kekecewaan-penyesalan..namun juga sebagai ironi bagi keberhasilan manusia membangun peradaban, mengukuhkan supremasi.

Awal mula ketertarikan kita pada hal apapun, paling mudah menyoal pada bentuk atau rasa.. peristiwa ini diwariskan oleh proses panjang evolusi manusia. Proses panjang evolusi juga yang membuat kita sebenarnya bisa (jika mau) bertanya pada diri sendiri perihal ketertarikan tersebut, “Apakah saya membutuhkannya?”, lalu “Apa dampaknya bagi sekeliling?”.

Bey Shouqi Hamidy

ichthyhumanology

Dhanny sanjaya_ichthyhumanology_mix media_variable dimension_2018 (02)

Dhanny sanjaya_ichthyhumanology_mix media_variable dimension_2018 (04)

Dhanny sanjaya_ichthyhumanology_mix media_variable dimension_2018 (01)

Dhanny sanjaya_ichthyhumanology_mix media_variable dimension_2018 (03)

Dhanny sanjaya_ichthyhumanology_mix media_variable dimension_2018 (05)

Mixed media and variable dimension
2017

__________

Apa yang bisa kita bayangkan tentang bumi di masa depan? dan Apa jadinya bila lingkungan berubah lebih cepat daripada penghuninya bisa beradaptasi?

Dalam karya ini saya memainkan dan membaurkan batas fiksi dan ilmiah tentang narasi evolusi masa depan manusia dan hubungannya yang erat dengan isu kerusakan Bumi di masa depan.

Dalam kondisi bumi yang tanpa daratan, manusia ‘dipaksa’ untuk berevolusi kembali dengan lingkungan yang baru. Data ilmiah dan riset tentang kenaikan permukaan air laut, teori manusia sebagai mamalia laut dan kemiripan beberapa fungsi organ manusia dengan mahluk laut,suara yang di komunikasikan ikan, menjadi narasi yang dibangun untuk memprediksi evolusi manusia kedepan.

Tambah Tumbuh

Tambah Tumbuh
odd gallery – Cangu
Bali 2016

bill_tambah-tumbuh
Collected receipt
tt_01
Untitled, Sewing thread and acrylic in recycle paper (14 x 29.7cm) 2016
tt_03
Untitled, Acrylic in recycle paper (14 x 29.7cm) 2016
tt_02
Untitled, Collage in recycle paper (14 x 29.7cm) 2016

“Tambah Tumbuh” is a phrase in Indonesian language which has so much meanings; it can be “More Growing”, “More Positive”. Tambah Tumbuh happens unintentionally.

A collaborative project which is occurred based on our similarity of thought. As a modern human being, It’s unavoidable that we have daily needs to be fulfill. On this opportunity we are making a respond about a process that happens continously. our daily activities are often related with sales transaction that produce a receipt.

Start with collecting our daily receipts, we also collect all kinds of paper waste to be “reborn” Have you ever wondered, how many receipt that you get in your lifetime? #TAMBAHTUMBUH

Tambah Tumbuh Project collaboration with Nady Azhry, Adyani Dewi ,and Erin Tasmin.

penyakit anak SD

Sex Vol 4 : Sex Education
Waga Gallery – Kemang
Jakarta 2015

penyakit-anak-sd

Pencil and Acrylic On Plywood
4x17cm
2015

__________

Sexual harassment can occur in the simplest form though. It can happen in our daily life even though it is only a joke and a comment.

ilusi kebebasan

exi(s)t 2 – Instruksi
dia.lo.gue artspace
Jakarta 2013

_

ART|JOG 14 : Legacies of Power
Taman Budaya Yogyakarta
2014

ilusi-kebebasan1ilusi-kebebasan3

Mixed media inside mdf boxes
27x27x27cm – 8 boxes
2013

__________

“Kekuasaan seperti polisi bagi memori kita, semesta pikiran kita dan keluasan emosi”. Romo Hari Juliawan

“Tidak ada jalan untuk membebaskan diri dari tatanan yang diimajinasikan. Ketika kita menghancurkan penjara kita, dan berlari menuju kebebasan, kita sesungguhnya berlari menuju halaman yang lebih luas dari penjara yang lebih besar.”

Relasi kekuasaan yang saya rasakan sehari-hari membuat saya mempertanyakan kembali tentang arti kebebasan pribadi kita sebagai manusia.

Kita diberi alternatif tetapi terbatas, meskipun manusia secara pribadi bebas tetapi lingkungan sekitarnya tidak memberikan kebebasan, jadi sama saja dengan tidak ada kebebasan sehingga bisa dikatakan kebebasan itu sifatnya semu belaka. Pada akhirnya, menurut beberapa pemikiran, kebebasan dari kekuasaan berada sepenuhnya ditangan manusia itu sendiri.

*some photo doc by indoartnow & dia.lo.gue artspace

dialog tentang batas

LIR Artspace – Yogyakarya
2015

Dialog Tentang Batas
Acrylic sheet, Resin, Marker
Variable Dimension
2015

__________

Berangkat dari perbedaan keyakinan yang lekat dengan keseharian saya, dengan latar belakang orangtua yang berbeda keyakinan. Saya berusaha menampilkan garis imajiner yang ada dalam perbedaan yang disatukan dalam kehidupan keluarga. Perbedaan dan batas-batas lain yang ada dalam hubungan manusia. friksi, negosiasi, kompromi, dan pembauran ini yang coba saya tuangkan dalam karya.

Dialog yang ditawarkan membuka satu ruang untuk terus mempertanyakan: Kapan, di mana, dan bagaimana perbedaan menjadi sebuah masalah?