(m)asa

poster pameran fix - dineyy-01

Project by Ahdini Izzatika

Curated by Salima Hakim

Studio 75 open call Program 2018

… I cannot escape the objection that there is no state of mind, however simple, which does not change every moment, since there is no consciousness without memory, and no continuation of a state without the addition, to the present feeling, of the memory of past moments. It is this, which constitutes duration. Inner duration is the continuous life of a memory which prolongs the past into the present, the present either containing within it in a distinct form the ceaselessly growing image of the past, or, more profoundly, showing by its continual change of quality the heavier and still heavier load we drag behind us as we grow older. Without this survival of the past into the present there would be no duration, but only instantaneity.” Henri Bergson, 1903.

[m]asa adalah sebuah karya yang lahir dari kesadaran akan ketidaktahuan dan kurangnya rasa ingin tahu mengenai orang-orang terdekat. Projek ini mengekplorasi hubungan antara hal-hal yang pernah ada, masih ada dan mungkin saja ada melalui dokumentasi pembicaraan-pembicaraan hangat nan sederhana antara tiga generasi perempuan; anak, ibu dan nenek. Dalam perjalanannya, pelan-pelan projek ini menemukan signifikansi ingatan masa lalu orang lain dalam diri sendiri dan sebaliknya diri sendiri dalam ingatan orang lain sebagai landasan eksplorasi karya. Narasi yang berkembang kemudian menitikberatkan pada perbedaan dan persamaan akan situasi-situasi yang disimpan dalam ingatan tiga perempuan, yang tentunya membawa perspektif, kompleksitas dan intrik yang mewakili masing-masing generasi. Sebagai titik awal dari sebuah proses ingin tahu yang masih berkelanjutan, dokumentasi ditampilkan dengan cuplikan alur narasi, illustrasi, suara dan potongan-potongan gambar yang tumpang tindih sebagai gambaran lapisan waktu yang berbeda sekaligus penggambaran mengenai sifat ingatan, kesadaran dan pemikiran manusia yang selalu bergerak dinamis dan seringkali tumpang tindih. Percakapan dan ingatan-ingatan seputar transisi kemandirian, menjadi dewasa, harapan, peran, dan pilihan hidup yang saling silang antar tiga generasi kemudian muncul sebagai sebuah bentuk kesadaran dan refleksi diri menjadi perempuan saat ini, dan dalam kapasitas tertentu menjadi upaya pemahaman akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa nanti.

Oleh Ahdini Izzatika & Salima Hakim.

Enjin Motors

poster V

Exhibition by Vito Fachdez

Curated by Mahendra Nazar

Studio 75 open call Program 2018

Detail dan kompleksitas, mungkin itu dua kata tersebut yang dapat menggambarkan seorang Vito. Baik dalam teknis penggarapan karya gambar ukuran kecil di secarik kertas, maupun skala besar di tembok ; tetap, dua kata tersebut menjadi kunci dalam prosesnya. Ketertarikannya pada era revolusi industri, membuatnya gemar menggambar berbagai bentuk mesin dan mengarahkannya ke suatu ruang imajiner, dimana ketergantungan manusia akan teknologi yang diciptakan kian meningkat dan berkembang. Manusia ingin menjadi lebih cepat, lebih leluasa ; mencoba menguasai ruang dan waktu. Salah satunya melalui transportasi. Berbekal referensi pop kultur fiksi ilmiah, era cyberpunk, musik synthesizer ; ENJIN MOTORS lahir, sebuah manifestasi atas intuisi dan imajinasi Vito sebagai seorang mekanik dan konseptor terhadap respon dari “ketergantungan” manusia di era futuristik tersebut. Gambar konsep dari berbagai macam alat transportasi dipresentasikan sebagai solusi atas keinginan dan atau kebutuhan manusia dalam bertransportasi di masa itu, kelak.

oleh Mahendra Nazar

Mata pekerja fotokopi

poster-pameran-andhika

Exhibition by Andhika Y Prakasa

Curated by Yulian Ardhi

Studio 75 open call Program 2018
_

Sebelum muncul bentuk, tersebutlah garis. Elemen dasar visual berupa garis inilah yang menjadi bahan eksplorasi kekaryaan Andhika Y. Prakasa. Mengangkat pengalamannya selama bekerja di tempat usaha fotokopi, Andhika memanfaatkan material yang lazim tersedia di tempat tersebut untuk berkarya. Di balik jendela kaca tempat usaha fotokopi ini, Andhika menyaksikan orang-orang hilir-mudik silih berganti, kertas-kertas dokumen terduplikasi datang dan pergi, kendaraan pribadi dan angkutan publik lalu-lalang melintas melewati. Sementara dirinya terpenjara dengan rutinitas harian tempat usaha fotokopi dengan dikelilingi tumpukan kertas dan berbagai alat produksi. Memori visual pengalaman kerja Andhika ini kemudian dipindahkan dengan teknik dasar pegawai tempat fotokopi, yaitu mengukur, memotong, dan menempel, menjadi ungkapan kejenuhan akan rutinitas yang telah dilewatinya.

oleh Yulian Ardhi

Open Submission

75.OS18-01

Studio 75

[OPEN SUBMISSION : EXHIBITION]

Studio 75 adalah sebuah wadah project seni independen di Tangerang yang berdiri sejak 2017.

Gagasannya adalah  mencoba membangun komunitas seni yang positif di daerah Tangerang, dengan cara membuka ruang bagi seniman muda dan individu kreatif dari multidisiplin dapat berinteraksi dan bekerja sama sambil menyajikan seni, desain dan kreativitas dengan berbagai cara.

Studio 75 membuka kesempatan bagi para seniman muda, individu kreatif,  dan mahasiswa untuk mengajukan proposal pameran pada periode 2018. Deadline pengiriman proposal tanggal 10 Februari – 20 Maret 2018.

Beberapa ketentuannya sebagai berikut :

  • Project based atau pameran tunggal (individu/duo/group).
  • Mengirimkan data-data berikut :

1. CV / Resume

2. Portofolio (gambar, video, audio, esai, atau tautan link web

3. Proposal berisi deskripsi praktek dan karya secara ringkas (minimal 150 kata)

Bagi yang tertarik data-data dapat di email ke : halostudio75@gmail.com

instagram @75.studio

Tangerang Sayang, Sayang Tangerang

tng-sayang

Yang jauh jarang diacuh, yang dekat luput diingat. Sayangnya, barangkali seperti itulah Tangerang. Mengenang Tangerang ibarat meracik kopi di pagi hari, sebuah kebiasaan yang begitu melekat hingga tak terlalu dipikirkan lagi. Membayangkan Tangerang ibarat mengarang puisi, dicari-cari kata berima, diulang-ulang hingga berbunyi di telinga.

Tangerang muncul beberapa kali dalam dongeng nenek moyang, sebagai benteng pertahanan agar tak seorang menyerang Serang. Meskipun yang abadi adalah sajak tentang beribu tulang berliput debu di antara Karawang Bekasi, tetap di tanah itu tertinggal jejak-jejak para pejuang dan tulang-tulang yang berbaring berharap menang.

Tangerang lalu hilang lagi, terselubung polusi industri. Tetapi pada beberapa lubuk hati, sejarah tak bersembunyi di sudut-sudut Pasar Lama, bukan juga terbawa arus Cisadane. Tangerang ada dan menyimpan cerita. Orang boleh sibuk melirik Jakarta, tapi Tangerang tidak untuk dipandang sebelah mata. Lihat kota ini. Rasakan dengan nala beragam kisah tak terucap yang terungkap dengan sendiri.

Selayaknya nama Tangerang yang berarti “tanda”, bisa jadi pameran kecil ini adalah sebuah tanda terima kasih untuk kota yang diam-diam disayang, mungkin juga awal mula, pertanda kisah kasih baru dengan Tangerang, yang menunggu kami pulang.

Oleh : Nin Djani


 

Of Course It All Luck

of course it's all luck_2

Mengabadikan keseharian dengan kamera menjadi hal yang biasa saja beberapa tahun ke belakang, sejak semua orang dapat melakukannya dengan mudah dan cepat dengan ponsel pribadi. Cukup dengan mengamati dari unggahan di Instagram kita mungkin sepakat bahwa banyak orang sanggup menciptakan foto yang memanjakan mata, semua orang seperti sudah punya kesadaran akan foto apa yang menarik, komposisi, warna dan objek. Seragam? Itu soal lain.

Beberapa kali ngobrol dengan Ridha Aditya Nugraha, saya berkesimpulan bahwa hal-hal seragam tidak ia minati, dalam hidup misalnya ia punya pandangan yang acap berbeda dengan umumnya orang yang saya kenal, setidaknya saya (bagi saya, saya seperti orang kebanyakan), dalam fotografi? Sepertinya ia tidak penuh menyadari tentang keseragaman ini, sampai pada satu pertemuan di mana saya, Ridha dan beberapa teman sedang santap sore dan Ia memperilhatkan foto-fotonya selama ia menetap di Eropa karena alasan studi.

Kami melihat ulang foto-fotonya dan menemukan satu hal yang mungkin Ridha sukai yang beberapa kali hadir di dalam fotonya, binatang. Memang menampilkan binatang dalam foto bukanlah hal unik dalam street photography, dan bisa jadi kehadirannya di dalam frame tidak disengaja, seperti yang Ridha akui bahwa ia tidak memiliki kontrol utuh atas komposisi yang ia kehendaki.

Tapi bagi saya menghadirkan fotografi Ridha dalam pameran ini bukan lah pula hal sia-sia karena menjadi penting ketika proses ini juga dilihat dan dibagikan kepada khalayak sebagai sebuah cermin untuk memahami proses, bagaimana berupaya membuat karya otentik lewat membaca ulang apa yang sudah dilakukan.

Saya berharap pameran ini adalah awal untuk proyek-proyek fotografi Ridha yang lain walau mungkin semuanya seperti kata Henri Cartier Bresson, “Of course it’s all luck”.

(Teks oleh Bey Shouqi)


RIDHA ADITYA NUGRAHA

Ridha is a self-taught photographer who started experimenting with old cameras in 2008. Since then, he has focused his interest in the so-called street photography, namely in black and white. He won two national photography awards, one held by Canon-Fotografer.net (2012) and the other one was Bingkai Jakarta held by National Geographic Indonesia and Universitas Indonesia (2010).

Ridha Aditya Nugraha believes in a saying “one photo, thousands stories”.

r2

r3

r4

r1

studio 75

Print

Studio 75 hadir sebagai studio desain dan sebagai wadah project seni independen di Tangerang yang berdiri sejak 2017.

Gagasannya adalah  mencoba membangun komunitas seni yang positif di daerah Tangerang, dengan cara membuka ruang bagi seniman muda dan individu kreatif dari multidisplin dapat berinteraksi dan bekerja sama sambil menyajikan seni, desain dan kreativitas dengan berbagai cara.

_____

Studio 75 is a desain studio and independent art project in Tangerang, established since 2017.

The idea is to try to build a positive art community in Tangerang, by opening the space for young artists and creative individuals from multi-disciplinary to interact and work together while presenting art, design and creativity in various ways.