Tanjung Kait

“Beberapa bulan lalu ge pernah ikan-ikan pada mabok pada geletak di pantai, rame di ambilin warga, banyak yang keracunan”, cerita salah satu warga yang juga pemilik warung, kami menumpang istirahat dan berteduh sejenak dari teriknya matahari pesisir.

Ia bercerita pernah terjadi satu fenomena di mana pantai tiba-tiba dipenuhi ikan yang mabuk/mati secara masal. Kami bertanya penyebabnya, ia menebak mungkin karena air laut yang tercemari oleh limbah. Tinggal di kota Tangerang, pantai-pantai di utara Tangerang ini tentu adalah alternatif pilihan tempat tujuan rekreasi bagi kami dan juga banyak warga Tangerang kala penat dengan rutinitas dan bosan dengan apa yang ditawarkan oleh kota.

Namun, semakin panjang kami berjalan, kami ditunjukan pada pemandangan yang mengernyitkan dahi, perjalanan ini pelan-pelan meruntuhkan pengetahuan yang menetap lama dalam pikiran kami tentang apa itu keindahan dan kesewajaran.

“Saya sendirian yang ngerjain, warga lain boro mau, ini mesti diurug terus soalnya kan ga pake pasir/tanah pakenya kulit kerang jadi kurang kokoh”, cerita seorang bapak penjaga Vihara Chikung. Vihara yang ia hidupi dengan susah payah, kondisinya? pada saat ia bercerita, saya, Danot dan si Bapak berada di dalam ruangan yang sepertinya tidak berdiri sempurna alias miring karena Vihara tersebut hanya berdiri di atas tumpukan kulit kerang dan berada persis diujung garis pantai yang terkikis karena abrasi.

Sambil berjalan melihat-lihat ruangan di dalam Vihara, kami melewati 1 meja altar yang menghadap ke laut, terlihat dari jendela besar matahari seakan mencengkeram lautan hingga pucat pasi dan beberapa perahu terlihat berlayar dalam keheningan yang dalam, di atas meja altar tertulis nama “Dewa Laut”, kami berharap hari ini hari baik untuk warga sekitar.

24 September 2024 – Oleh Bey Shouqi

Foto oleh Bey Shouqi & Danot

PIK 2

Saya perlu memberi informasi secara sadar bahwa saya berdiri di atas tanah reklamasi, karena hal itu sering lewat saja di kepala tidak tercerna. Perjalanan di area pantai indah kapuk mengingatkan saya dengan Singapura, fasilitas dan roadmap dibangun untuk menjawab kebutuhan dan kenyamanan orang yang tinggal di sekitar sana, yang dijual untuk menambah nilai hidup mereka melalui fasilitas yang dekat dengan alam. Menjadi paradoks ketika hal ini menggeser hal-hal alamiah, seperti menggusur habitat asli dari beragam spesies yang menghuni kawasan ini jauh sebelumnya. Juga seperti halnya Singapura, rasanya impersonal, dan mereka yang datang memang semua baru saja membangun memori baru, belum ada keterikatan apapun.

Kecenderungan kita yang senang membuat label baru (dengan alasan apapun) pada sesuatu yang sesungguhnya telah lama ada adalah kita acap mengesampingkan nilai historisnya alih-alih belajar darinya. Hingga terjadilah apa yang disebut oleh seorang ahli biologi kelautan bernama Daniel Pauly dengan istilah “Shifting Baseline Syndrome”, kondisi di mana ketika setiap generasi baru menganggap kondisi lingkungan di mana mereka tumbuh sebagai kondisi yang ‘normal’. Hal ini juga menggambarkan bagaimana standar masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang dapat diterima (atau yang baik) terus menurun. Hal yang tentu sangat mengkhawatirkan saat kita tidak tahu bahwa ruang kita hidup mungkin sedang tidak baik-baik saja.

3 Agustus 2023 – Oleh Ahdini Izzatika dan Bey Shouqi

Foto oleh Bey Shouqi

Ketapang, Pasir putih

Perjalanan ke tempat baru kadang tidak saja menghadirkan perasaan yang asing, dibanyak langkah menelusuri jalan ada kalanya perasaan seperti ‘kembali pulang’ datang begitu saja entah dari mana, mungkin dari warisan leluruh yang hidup bersanding dengan alam, mungkin pula dari sedikit kesamaan rasa yang pernah dialami namun tertimbun dalam ingatan kita yang lemah.

Menelusuri wilayah pesisir desa Ketapang hingga Pantai pasir putih di kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Kami mendapati lanskap yang lain dari keseharian kami, mulai dari tambak-tambak yang terbengkalai, lahan-lahan yang dikuasai perusahaan swasta, dan tentu belum pernah kami melihat lebih dekat sepeti bangkai tikus dengan perut kembung akan air laut dan beberapa bangkai ikan bermacam rupa tergeletak di bibir pantai.

Kami menemukan di sisi yang lain sebagian area dipercantik untuk menarik para wisatawan, tapi entah kenapa rasanya bangunan-bangunan baru tersebut terlihat canggung dan tidak mengenali tanah di mana dirinya berdiri.

Di antara hal-hal yang asing seperti itu ingatan kami seakan akrab kala menyaksikan keseharian warga pesisir baik yang berwajah lokal juga warga keturunan (Cina Udik?) yang hidup di sana. Melihat Amah bermain riang dengan cucu-cucunya di pantai atau pasangan muda-mudi bermesraan mungkin sambil berbincang untuk membuat konten tiktok.

Berjalan di bawah terik matahari yang menyengat, melihat kehidupan warga pesisir, dan lanskapnya yang serba baru untuk kami membuat pikiran pun seakan ikut meleleh bercampur antara realitas dan angan-angan.

Sampai nanti di perjalanan selanjutnya…

27 Mei 2023- Oleh Bey Shouqi

Foto dokumentasi oleh para peserta