PIK 2

Saya perlu memberi informasi secara sadar bahwa saya berdiri di atas tanah reklamasi, karena hal itu sering lewat saja di kepala tidak tercerna. Perjalanan di area pantai indah kapuk mengingatkan saya dengan Singapura, fasilitas dan roadmap dibangun untuk menjawab kebutuhan dan kenyamanan orang yang tinggal di sekitar sana, yang dijual untuk menambah nilai hidup mereka melalui fasilitas yang dekat dengan alam. Menjadi paradoks ketika hal ini menggeser hal-hal alamiah, seperti menggusur habitat asli dari beragam spesies yang menghuni kawasan ini jauh sebelumnya. Juga seperti halnya Singapura, rasanya impersonal, dan mereka yang datang memang semua baru saja membangun memori baru, belum ada keterikatan apapun.

Kecenderungan kita yang senang membuat label baru (dengan alasan apapun) pada sesuatu yang sesungguhnya telah lama ada adalah kita acap mengesampingkan nilai historisnya alih-alih belajar darinya. Hingga terjadilah apa yang disebut oleh seorang ahli biologi kelautan bernama Daniel Pauly dengan istilah “Shifting Baseline Syndrome”, kondisi di mana ketika setiap generasi baru menganggap kondisi lingkungan di mana mereka tumbuh sebagai kondisi yang ‘normal’. Hal ini juga menggambarkan bagaimana standar masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang dapat diterima (atau yang baik) terus menurun. Hal yang tentu sangat mengkhawatirkan saat kita tidak tahu bahwa ruang kita hidup mungkin sedang tidak baik-baik saja.

3 Agustus 2023 – Oleh Ahdini Izzatika dan Bey Shouqi

Foto oleh Bey Shouqi