Tanjung Kait

“Beberapa bulan lalu ge pernah ikan-ikan pada mabok pada geletak di pantai, rame di ambilin warga, banyak yang keracunan”, cerita salah satu warga yang juga pemilik warung, kami menumpang istirahat dan berteduh sejenak dari teriknya matahari pesisir.

Ia bercerita pernah terjadi satu fenomena di mana pantai tiba-tiba dipenuhi ikan yang mabuk/mati secara masal. Kami bertanya penyebabnya, ia menebak mungkin karena air laut yang tercemari oleh limbah. Tinggal di kota Tangerang, pantai-pantai di utara Tangerang ini tentu adalah alternatif pilihan tempat tujuan rekreasi bagi kami dan juga banyak warga Tangerang kala penat dengan rutinitas dan bosan dengan apa yang ditawarkan oleh kota.

Namun, semakin panjang kami berjalan, kami ditunjukan pada pemandangan yang mengernyitkan dahi, perjalanan ini pelan-pelan meruntuhkan pengetahuan yang menetap lama dalam pikiran kami tentang apa itu keindahan dan kesewajaran.

“Saya sendirian yang ngerjain, warga lain boro mau, ini mesti diurug terus soalnya kan ga pake pasir/tanah pakenya kulit kerang jadi kurang kokoh”, cerita seorang bapak penjaga Vihara Chikung. Vihara yang ia hidupi dengan susah payah, kondisinya? pada saat ia bercerita, saya, Danot dan si Bapak berada di dalam ruangan yang sepertinya tidak berdiri sempurna alias miring karena Vihara tersebut hanya berdiri di atas tumpukan kulit kerang dan berada persis diujung garis pantai yang terkikis karena abrasi.

Sambil berjalan melihat-lihat ruangan di dalam Vihara, kami melewati 1 meja altar yang menghadap ke laut, terlihat dari jendela besar matahari seakan mencengkeram lautan hingga pucat pasi dan beberapa perahu terlihat berlayar dalam keheningan yang dalam, di atas meja altar tertulis nama “Dewa Laut”, kami berharap hari ini hari baik untuk warga sekitar.

24 September 2024 – Oleh Bey Shouqi

Foto oleh Bey Shouqi & Danot